Friday, 22 April 2011

kisah Imam Ghazali mendengar nasihat perompak

  Bertahun-tahun lamanya pemuda yang kemudian dikenal sebagai Imam Ghazali itu, menuntut ilmu di Naishabur. Ketika pulang ke negeri asalnya di Thus bersama rombongan kafilah, di tengah perjalanan mereka dicegat perompak. Semua barang dirampas habis, termasuk barang bawaan Imam Ghazali.

"Kalian boleh mengambil seluruh barang-barangku, kecuali yang satu ini," katanya.

Perompak yang semakin penasaran itu malah merebut kembali barang itu. Betapa kecewanya mereka setelah diketahui bahwa barang yang dianggap- nya bernilai itu cuma buku-buku dan kumpulan catatan.

"Apa ini?."



"Sesuatu yang tak ada gunanya bagi kalian, namun sangat berharga bagiku."

"Jadi apa ini?."

"Ilmuku. Aku memperolehnya setelah bertahun-tahun belajar di Naishabur," katanya.

"Hanya pada lembaran kertas itukah ilmumu?," tanya mereka.

"Ya," jawab Imam Ghazali.

"Ilmu yang disimpan dalam lembaran kertas di bungkusan itu sebenarnya bukanlah ilmumu. Ilmu semacam itu bisa hilang dan dirompak," kata mereka.

Imam Ghazali menjadi tersentak mendengar ucapan perompak itu. Dipikir-pikir benar juga ucapan mereka. Yang benar, tempatnya ilmu bukan di buku, melainkan di dalam hati dan otak. Di tempat itulah ilmu tak mungkin bisa hilang atau dirompak orang.

No comments:

Post a Comment